Senin, 29 Maret 2010

Pengakuan Soebandrio - GATRA

Majalah Berita Mingguan GATRA,
12 Agustus 1995.
LAPORAN UTAMA : Dana Revolusi.

Pengakuan Soebandrio

Soebandrio mengaku sangsi bahwa Dana Revolusi itu ada. Tapi,
anehnya, dia mencoba mencairkan dana di Union Bank of Switzer-
land.

HARI-hari menjelang pembebasannya, Soebandrio, 81 tahun, dis-
ibukkan oleh berita simpang-siur tentang Dana Revolusi. Dana itu
disebutkan hanya bisa dicairkan oleh bekas Wakil Perdana Menteri
I zaman pemerintahan Bung Karno itu. Grasi yang diterimanya malah
diisukan sebagai imbalan pemerintah atas kesediaannya mencairkan
dana tersebut. Di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Soebandrio
diwawancarai oleh Linda Djalil dari Gatra. Petikannya:

Bisa Anda jelaskan tentang Dana Revolusi yang diributkan orang?

Saya gembira diberi kesempatan memberi penjelasan tentang Dana
Revolusi. Hingga kini orang memberi keterangan mengenai dana itu
tanpa pengertian sebenarnya. Pengumpulan Dana Revolusi diputuskan
oleh Presiden Soekarno dan pemerintahan Djuanda. Ketika itu
keadaan keuangan negara sangat sulit dan anggaran belanja para
menteri sangat terbatas. Jika menteri kehabisan uang maka
dibutuhkan tambahan anggaran belanja. Ini makan waktu agak lama,
sampai beberapa bulan. Maka Menteri Keuangan diper- silakan
menyediakan Dana Revolusi dalam rupiah, dalam jumlah
terbatas. Keadaan keuangan negara waktu itu serba sulit,
separuh anggaran belanja negara dipakai untuk perjuangan merebut
Irian Barat kini: Irian Jaya. Para menteri yang sangat
membutuhkan uang mengajukan permintaan kepada menteri keuangan
yang meneliti permintaan itu.

Jika menteri keuangan setuju, kemudian harus diajukan kepada
Djuanda untuk mendapat pengesahannya. Setelah Bapak Djuanda
meninggal, saya dan Chairul Saleh diberi tugas memberi keputusan
terakhir tentang permintaan menteri.

Lalu?

Ya, kami berdua memberikan persetujuan. Misalnya untuk Menteri
Perindustrian Armunanto. Jumlahnya Rp 30 juta, atas rekomendasi
menteri keuangan.

Dana Revolusi itu sebenarnya disimpan di mana?

Dana itu dihebohkan disimpan di luar negeri atas nama saya.
Sebenarnya tak begitu. Dana Revolusi berwujud rupiah dan hanya
disimpan di bank dalam negeri, bukan di luar negeri.

Lalu Anda mengetahui adanya Dana Revolusi dari mana?

Semula saya sendiri lupa, tak pernah memikirkan apakah ada uang
sebanyak itu, yang disebut Dana Revolusi itu. Tiba-tiba,
kira-kira tahun 1980-an, seorang Malaysia bernama Musa datang ke
rumah menemui istri saya, Dyan (Sri Kusdyantinah, istri kedua
Soebandrio yang dinikahi tahun 1980 -- Red.). Saya sendiri sudah
hidup di penjara. Musa mengaku baru tahu bahwa saya masih hidup
setelah melihat foto kami.

Musa datang mengaku sebagai apa?

Sebagai nasabah Union Bank of Switzerland. Dia juga mengaku tahu
persis bahwa di bank Swiss itu ada deposito atas nama Dr.
Soebandrio sebanyak US$ 130 juta. Dia ceritakan kepada Dyan. Tapi
saya menganggap keterangan itu bohong dan sensasional.
Pemerintahan Soekarno sama sekali tak mempunyai dana untuk dis-
impan di Swiss. Saya pesan kepada istri saya untuk menjawab
begitu kalau ditemui Musa. Sebab saya yakin Dana Revolusi itu tak
mungkin ada.

Tapi kok akhirnya Anda percaya?

Begini ya. Namanya orang di dalam bui, tak bisa apa-apa, tak bisa
mengecek langsung. Sementara itu Musa tak putus asa dengan
jawaban istri saya. Dia berkali-kali berusaha menemui Dyan. Itu
berlangsung selama kira-kira satu tahun. Bahkan dia pernah datang
membawa seorang Swiss untuk membuktikan bahwa saya masih hidup
dan hukuman saya telah diubah dari vonis mati menjadi hukuman
seumur hidup. Musa terus membujuk. Dia berkata, kalau saya sudah
mati, dana itu akan menjadi milik Bank Swiss. Sayang sekali kalau
tak segera diambil.

Apa upaya Musa selanjutnya?

Dia mendesak istri saya agar membujuk saya untuk memberikan surat
keterangan bahwa deposito yang ada di Swiss memang atas nama
saya. Akhirnya saya bersedia memberi surat kuasa kepada Musa.
Isinya minta keterangan tertulis kepada Union Bank of
Switzerland, apakah benar deposito di bank tersebut memang atas
nama saya. Jadi justru saya yang mememinta keterangan, bukan saya
yang memberi keterangan. Saya juga tak mengatakan ingin menagih.

Jawaban mereka?

Ha, ha, ha, sampai sekarang keluarga saya belum menerima surat
jawaban dari UBS. Jadi saya belum tahu apakah benar di sana ada
deposito atas nama saya.

Siapa lagi yang pernah menyebut soal Dana Revolusi itu kepada
Anda?

Harry, keponakan saya dari istri pertama, dan bapaknya,
Hoepoedio. Mereka mengunjungi saya di penjara dan menganjurkan
supaya dana di Swiss itu diambil negara. Katanya, cukup dengan
surat kuasa saja kepada Harry untuk mengambil dana itu.
Permulaannya saya tak layani mereka.

Tapi mengapa Anda diam-diam juga melakukan penyelidikan, tanpa
melapor kepada pemerintah?
; Saya tidak diam-diam dan tak ada maksud jahat untuk "mem-
belakangi'' pemerintah. Kalau Musa merasa yakin, ya silakan cari.
Sebab saya sendiri belum yakin betul dana itu ada. Jadi untuk apa
diberitahukan kepada pemerintah kalau saya sendiri tak yakin? Iya
kalau ada. Kalau tidak, kan malu.

Kalau waktu itu memang ada, apakah Anda akan mengambil uang itu
untuk pribadi?

Sejak semula saya sudah niat, seandainya uang itu benar ada, akan
saya serahkan kepada negara. Saya sadar, itu bukan hak saya. Tak
ada uang pribadi saya sebanyak itu di luar negeri. Tak tebersit
sedikit pun mengambil uang orang lain. Saya narapidana yang ingin
bertobat dan hanya kepada Allah SWT hidup ini saya pasrahkan.

Tapi nyatanya Anda toh memberi kuasa kepada Musa untuk men-
cairkan uang US$ 35 juta?

Itu salah. Bukan US$ 35 juta, melainkan US$ 35 ribu. Dan itu
bukan uang Dana Revolusi. Itu uang dari rekening pribadi saya
sendiri, uang yang saya miliki di Swiss. Jumlahnya US$ 35 ribu.
Itu kan kecil. (Dokumen yang dimiliki Gatra menunjukkan bahwa
angka yang ditulis Soebandrio itu US$ 35 juta -- Red.). Sengaja
saya suruh Musa mengurusnya, sekalian untuk mengetes dia, apa
benar dia bisa. Ternyata uang itu pun tak bisa diambil. Sekali
lagi, saya tak mengutak-utik Dana Revolusi. Uang US$ 35 ribu itu
uang saya pribadi.

Kabarnya tanggal 27 Februari 1992 Anda memberi cek senilai US$ 1
juta kepada Musa untuk dicairkan di UBS. Anda juga meminta Musa
untuk mentransfer uang tersebut ke rekening Kus- dyantinah di
First National City Bank di Jalan Thamrin, Jakarta. Benar begitu?

Itu betul. Tapi cek itu juga tak berhasil dicairkan.

Dalam riuh Dana Revolusi ini muncul nama Nicholas James Con-
stantine? Siapa dia?

Saya menerima surat dari ahli hukum Swiss, ya itulah orangnya
(dari bahan yang diperoleh Gatra, Nicholas James Constantine
adalah pengacara di Chicago, Amerika Serikat -- Red.). Dia
mengatakan, saya punya deposito di UBS sebesar US$ 130 juta.
Deposito itu bisa diambil melalui sindikat Swiss, yaitu
organisasi perbankan di Swiss. Bantuan sindikat ini harus dibayar
dengan imbalan 40% dari jumlah deposito. Syarat lain, saya harus
dalam keadaan bebas dan harus datang sendiri ke Union Bank of
Switzerland di Jenewa.

Anda bertemu sendiri dengan orang itu?

Tidak. Istri saya yang bertemu dengannya. Tapi saya meminta Dyan
untuk menghindarinya. Sebab sejak kejadian Musa dulu, saya sudah
tak mau lagi mengurus uang yang disebut sebagai Dana Revolusi
itu. Saya menganjurkan agar istri saya tak lagi meng- gubris
berita sensasional itu. Oleh sebab itu Constantine berupaya
datang terus ke Jalan Imam Bonjol, tapi istri saya tak mau
menemuinya.

Bagaimana akhirnya bisa bertemu dengan Constantine?

Istri saya pernah diundang menghadiri acara pengajian di rumah
Ibu Nelly Adam Malik. Ya, istri saya datang. Tahu-tahu di sana
sudah ada Constantine yang sengaja menunggu. Ibu Nelly
sekonyong-konyong mempertemukan istri saya. Tentu saja istri saya
sangat kaget. Di situlah Constantine mulai menjelaskan kembali
deposito atas nama saya di Union Bank of Switzerland. Constantine
meminta Dyan membujuk saya untuk mencairkannya. Constantine
bilang, sayang sekali kalau deposito itu tak diam- bil dan akan
jatuh ke tangan bank itu. Bahkan Ibu Nelly ikut mempengaruhi.
Kepada istri saya, dia berkata, dosa lho kalau uang negara itu
didiamkan. Istri saya jadi bingung.

Apakah Constantine minta imbalan?

Tentu saja. Kepada istri saya, dia mengatakan bisa mengurus Dana
Revolusi asalkan diberi 40% dari hasil deposito yang bisa
dicairkan.

Tanggal 13 Februari 1986 Anda menulis surat kepada Presiden
Soeharto, memberitahukan tentang adanya Dana Revolusi itu?
Artinya Anda mengakui bahwa uang itu ada?

Saya serba salah. Tidak melapor, nanti salah. Diam, salah.
Akhirnya saya pikir melapor saja. Saya tulis surat ke Presiden.
Dalam surat itu pun saya mengatakan, sebagai warga negara yang
setia, saya ingin menyerahkan uang itu kepada pemerintah RI.

Dalam surat kepada Pak Harto, Anda memerinci jumlah dana di Union
Bank of Switzerland sebesar US$ 450 juta. Di Barcley Bank Inggris
ada emas senilai 125 juta poundsterling. Bukankah itu berarti
Anda tahu persis keberadaan dana itu?

Itulah kesalahan saya. Saya dan keluarga saya begitu dipengaruhi
orang luar. Dari tak percaya sampai akhirnya per- caya. Mengapa
saya menyebut angkanya kepada Pak Harto, itu karena saya bingung.
Banyak orang memberikan data itu berikut menyebutkan tempat
penyimpanannya. Mereka juga berkata, kalau saya tak mengaku akan
berdosa, yang akibatnya bisa fatal. Saya sebetulnya bukan tak mau
mengaku. Tapi saya memang sangsi barang itu ada.

Surat itu Anda tulis sesudah atau sebelum dihubungi oleh Con-
stantine?

Sesudah.

Anda pernah menyebut soal barter kebebasan dengan Dana Revolusi?

Sama sekali tidak. Itu fitnah belaka. Sebab sejak semula saya
sudah menganggap, uang itu -- kalau memang ada -- bukan milik
saya, bukan hak saya.

Anda memakai Pengacara Amin Arjoso?

Arjoso semula teman akrab Harry Hupudio -- kemenakan saya.
Setelah saya ditanya macam-macam tentang Dana Revolusi, Amin
yakin betul uang itu ada. Mereka minta surat kuasa dari saya dan
mengatakan sanggup mengambil uang itu asalkan dibayar 40%. Mereka
berjanji, istri saya akan diberi 10% dari deposito itu.
Permintaan mereka tak saya layani.

Hubungan Anda dengan Suhardiman?

Ketika saya menjadi Menteri Luar Negeri, dia sering datang ke
rumah saya untuk beramah-tamah. Pernah pula dia minta bantuan
untuk organisasi buruh SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan
Sosialis Indonesia, sekarang menjadi Sentral Organisasi Karyawan
Swadiri Indonesia -- Red.). Saya pun membantu. Ketika Dana
Revolusi diramaikan, dia mengatakan agar dana itu segera diambil
dan diserahkan kepada pemerintah. Saya tak patut meminta komisi.
Rupanya Suhardiman belum tahu bahwa jauh sebelumnya saya sudah
menulis surat kepada Presiden. Baru belakangan dia tahu.

Masih berhubungan dengan Musa ataupun Constantine?
Sama sekali tidak. Dan belum pernah sepotong surat pun yang
mereka bawa dari UBS. Sampai sekarang mereka ternyata tak bisa
membuktikan bahwa saya memiliki deposito di UBS. Jadi tak benar
ada Dana Revolusi atas nama saya.
.......................sekian dulu.........................$


Blog Dr: http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/08/10/0002.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar